Rabu, 05 Desember 2012

Soul One : Kom Prophet (Part.II)


Mentari tiba dan menerangi sebuah gubuk kecil di sudut kota. Sinarnya menembus rumah dan tertuju ke kamar. Tempat berbaring seorang anak. Wajahnya tampak sedikit kotor. Memakai celana pendek. Tertidur pulas di tempat tidurnya. Tak berapa lama anak itu bangun. Seorang anak yang telah mengalami kejadian yang akan segera mengubah kehidupannya. Kejadian ditelan kegelapan yang Ia kira hanyalah mimpi. Anak itu bernama Ace Blackhood. Matanya memandang mentari yang telah membangunkannya. Rambutnya yang cukup panjang itu berantakan, dengan tangan yang di simpan didahi. Ace tampak berpikir akan kejadian itu. Mengira apakah mimpi atau sebuah kenyataan.
Ace beranjak dari tempat ia tidur dan keluar kamar yang langasung menuju ke ruang tengah dan dapur yang memang menyatu. Di ruangan itu terlihat seorang wanita yang cukup tua dengan rambut hitam panjang hingga punggung. Wanita itu sedang sibuk menyiapkan roti yang akan di jualnya. Wanita cukup tua tapi masih terlihat cantik bila di lihat seksama. Mata hitam yang indah, hidung mancung dan kulit yang sawo matang ditambah tubuh yang masih idaman para wanita itu menjadi daya tarik wanita itu. Hanya saja baju yang ia kenakan begitu lusuh. Sehingga membuat keindahan wajahnya sedikit terselip. Wajah yang mirip dengan Ace. Wanita yang tidak lain adalah ibunya Ace. Fiona Blackhood.
“Mau kemana Ace? Ini masih begitu pagi..?” tanya Fiona tetap dengan tenang menyiapkan roti yang akan segera dijualnya. Suaranya agak tinggi angkuh tapi terdengar merdu menggambarkan orang rendah hati. Ace mengambil sebuah roti di meja makan lalu memakai jaket cokelat yang tergantung di sebelah pintu keluar. Sambil memakai jaket, mulutnya menahan dan memakan roti yang tadi ia ambil. “Aku mau pergi sebentar Bu…” jawab Ace lalu keluar rumah. Fiona hanya melihat anaknya itu dengan tatapan yang dingin menyejukkan. Di Hatinya ia berharap tidak terjadi apa-apa terhadap anaknya.
Ace dan Fiona tinggal di sebuah rumah kecil sudut kota. Rumahnya hanya terdiri dari empat ruangan yang di mana kamar Ace, Fiona serta suaminya lalu ruang tengah dan kamar mandi. Kondisi keluarganya memang miskin. Fiona hanyalah seorang penjual roti keliling. Sedangkan Suaminya, Mera Blackhood. Adalah seorang prajurit kerajaan yang pulangnya tak tentu. Ace setiap harinya selalu berjalan sekeliling kota hanya untuk mencari beberapa buku. Sifat Ace yang dingin itu membuatnya sedikit anti social. Hampir tak ada yang mengenal Ace kecuali orang tua dan  orang-orang tempat ia meminjam buku dan membeli bahan makanan. Umurnya masih belia yakni delapan tahun. Tapi ketertarikannya akan ilmu sangat besar. Ia lebih memilih berdiam diri di kamarnya seharian dari pada bermain dengan anak sebayanya.
Ace berjalan ke sebuah tempat terdapat tikungan dengan lampu yang di sebelahnya tersembunyi sebuah gang kecil. Ya…tempat itu adalah gang tempat ia berdiri semalam. Ace mencoba masuk ke dalam gang dan dilihatnya dinding di ujung gang itu. Mencoba berpikir. “tidak ada gambar…apakah itu mimpi?” Ace mencoba meraba-raba dinding itu memastikan tidak ada yan menutupi. Hatinya berkata kalau kejadian itu nyata tapi apa yang ia lihat sekarang adalah sebuah keganjalan. Gambar yang memenuhi dinding itu lenyap. Gambar serigala berdiri yang membunuh ratusan orang itu tidak ada di tempat ia berada semalam. Aneh. Ace menghela nafas panjang dan duduk di tempat kakek yang membuatnya di telan kegelapan. Kakek dengan topi bundar abu dan baju yang lusuh tapi selalu menunjukan senyum di wajah dinginnya. Kakek yang bercerita seorang bernama Drawolf.
Duduk terdiam. Hening. Hatinya kosong tanpa tanya. Mata hitam menyejukan itu hanya memandang sehamparan langit kosong tanpa awan. Ace terus terduduk hingga matahari menyinari wajahnya. Sinar yang menunjukan tengah hari. Ace bangkit dari lamunannya dan melangkahkan kaki ke pusat kota Boco. Di lihatnya sebuah gedung yang cukup besar. Sangat kuno dan tampak tak hidup. Di atas pintu besarnya terdapat papan nama yang tertata rapih. “PERPUSTAKAAN HILARY”. Gedung tua yang menjadi tujuan dari lamunan. Pintu besar kayu berpahatkan gambar naga besar itu di bukanya.
Masuk. Rak-rak buku yang tersusun rapih dan tampak gagah dilihat. Membuat siapa saja yang melihat bagai berada di sebuah alam lain yang isinya hanyalah buku tapi sangat menenangkan. Langkahan Ace tertuju pada seorang yang sedang duduk di sofa.  Sofa merah yang cukup besar dan tampak kuno. Di atasnya tampak duduk seseorang memakai jas hitam rapih beserta celana panjang yang serasi. Wajahnya tua dengan kumis putih cukup lebat. Kacamata bulat kecil dan buku yang berada di tangannya menjadi dasar bahwa ia seorang yang bijak akan ilmu.  
“Apa yang membuat langkah kaki kecilmu itu kemari Tuan Blackhood? Sudah cukup lama sejak anda berkunjung…mungkin sekitar dua bulan yang lalukah?” suara besar nan bijak dari orang tua yang sedang duduk sambil membaca itu menggetarkan ruang perpustakaan. “Maaf…tidak mengetuk pintu…tapi ada yang ingin ku tanyakan?” nada suara Ace yang rendah menjawab sambil mendekat ke sofa. “Tentang apa?” orang tua itu menutup bukunya dan melihat Ace dengan seksama. Hening seketika. Ace mencoba berjalan kecil ke arah sebuah rak buku di samping sofa merah. “Kakek Hilary…apa kau tahu sesuatu tentang Drawolf?” Ace menuturkan pertanyaan sambil memilah-milah buku yang ada di rak.
Mencoba berpikir. Kakek Hilary memejamkan mata dan mencoba memfokuskan pikirannya. “Hmm…Drawolf…itu salah satu kisah mitos jaman dahulu.” Keadaan hening. Ace melihat ke arah Kakek Hilary yang membuka matanya perlahan lalu melanjutkan ceritanya. “Seseorang yang separuh manusia dan separuh serigala, tidak banyak yang tahu bangsa apakah dia?. Tapi dia membunuh seluruh bangsawan kerajaan di daerah Asegris. Jauh di utara kota Boco sana. Seorang yang sangat di benci dan akhirnya menghilang. Kalau saya boleh tanya, mengapa Tuan bertanya tentang itu? Cerita Drawolf adalah cerita lama yang tak terdengar saat ini, cukup mengagetkanku Tuan dapat mengetahui namanya…” sikut tangan kanan yang di tahan oleh tangan kiri dan telunjuk kanan yang memegangi dagunya seakan berpikir. Ace menghampiri Kakek Hilary lalu menuangkan teh yang ada di meja kecil samping sofa. “Tidak ada....” jawab Ace yang lalu berjalan perlahan keluar perpustakaan. Kakek Hilary hanya tersenyum mendengar langkahan kaki anak laki-laki yang selalu menatapnya dengan mata hitam yang tampak kosong itu.
Memang benar. Buat Hilary Ace adalah anak laki-laki yang menarik. Ace datang dengan ayahnya sekitar tiga tahun silam atau saat Ace berumur lima tahun. Awalnya Hilary merasa kalau Ace adalah anak yang tak menyukai buku dan tidak suka melakukan hal-hal yang membosankan. Mata Ace yang hitam sayu tampak kosong tak memiliki harapan itu membuat pandangan Hilary tertipu. Setelah beberapa bulan sejak pertama kali Ace datang ke perpustakaan. Hampir setiap minggunya Ace selalu mampir hanya untuk membaca satu dua buku. Hari kian hari Hilary menaruh perhatian pada Ace. Dan ia percaya sorotan mata hitam yang tampak pasrah itu ternyata memiliki pandangan penasaran akan yang di lihatnya. Sungguh luar biasa Ace dapat membaca buku yang tebal hanya dalam sehari. Belum sampai di situ, Ace pun dapat tahu isi dari buku itu walau masih belum dapat mengamalkan ilmunya. Mengingat umur Ace yang masih lima tahun, Hilary percaya kalau Ace kelak akan membuat suatu perubahan pada dunia. Dan sejak saat itulah Hilary maupun Ace memiliki hubungan yang sangat dekat. Bagai seorang kakek dan cucunya.
...